Lolong anjing memulai peristiwa malam dengan mengirim sunyi yang
misterius. Lolongan itu seperti sebuah instrumen, bila sunyi maka anjing
itu akan melolong. Kembali. Bergantian dengan cericit kelelawar.
Seketika tampak langit senyap dari bebintang. Hanya ada sesabit bulan
menggantung di atas gunung. Bulan sendirian menyalakan kehidupan.
Orang-orang
kampung Gunung Pekol berdiam dalam mimpi malamnya. Didekap sunyi.
Didekap nyenyak yang enak. Didekap malas yang pulas. Suasana malam yang
dingin itu berubah menegang. Pohon perdu dibiarkan bisu. Ada yang
berkelebat, sosok jangkung setinggi pohon nyiur di antara cahaya bulan
yang sampai separuh ke bumi. Ia keluar dari semak yang belukar.
Dengan
langkah lambat dan wajah yang menyeringai ia berjalan di pekarangan
desa. Gubuk-gubuk kecil oleh tangannya dihempas sampai hancur. Warung di
bibir jalan digantung ke ranting pohon. Ia mulai buas pada benda-benda
yang mengusik sepasang mata bulatnya.
Tak lama, kebuasannya
membangunkan penduduk kampung. Salah satu warga yang terjaga dari
tidurnya terkejut. Melihat suasana yang semakin gaduh seorang lelaki
bergegas mengambil sepotong kayu, lalu memukul kentongan di beranda
rumahnya. Berkali-kali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar